Thursday, March 30, 2006

Milis-milis

Awalnya untuk komunkasi dan informasi, saya ikut beberapa milis. Mulai dari milis teman2 SMP, SMA dan kuliah, semuanya rata2 saya kenal membernya. namun rasaya milis alumni ini sepi kalau tidak ada pertemuan dan berita nikah/kelahiran.
Lalu beberapa milis untuk sekedar berbagi informasi yang tidak saya kenal membernya. Milis ini rame, membernya banyak. Tapi saya cuma suka baca aja. Rata-rata saya sebagai member lebih memilih mengikuti arus keramaian milis tersebut. Tapi lebih sering saya mencoba untuk tidak terpancing dalam sharing/diskusi. Kuatir malah membuka aib kekurangan saya hahaha... eh tidak maksudnya gak punya banyak kosakata yang bisa dituliskan dalam waktu yang sesingkat-singkatnya. Lebih senang membuka pertanyaan .

Pernah juga satu ketika saya diKLIK jadi moderator sebuah milis, eh masih hidup ga yah itu milis!?;)) Terus terang saya bingung mau gimana sama milis itu. Mungkin karena ada beberapa ketidaksesuaian misi dan juga moderator yang males!? Tipikal diri cenderung lebih suka bertanya daripada menjawab. Dan mencari jawaban buat diri sendiri.Mungkin moderator kudu yang berdedikasi dan profil yang pas.

Milis Indosingmums, salah satu milis yang rajin saya baca dan juga sesekali mengirim email. Mungkin karena rata2 membernya saya kenal dan juga berusaha untuk saling bertemu. Saya anggap milis ini sebagai sarana silaturrahmi. Mudah2an saja komunitas ini semakin berkembang dan guyub.

Yah fenomena milis. Ini saya dapat dari website WRM . Milis yang rame tapi saya cuma suka baca aja.

Tahapan sebuah milis, yaitu sebagai berikut:

1. Antusiasme awal
Pada awal pembuatan suatu mailinglist, para member saling memperkenalkan diri dan merasa senang dapat berjumpa dengan teman-teman lainnya dalam media komunikasi yang cukup praktis.

2. Merasa kekurangan
Para member mulai merasa kekurangan atas sedikitnya e-mail yang masuk, lalu mulai berdiskusi bagaimana strategi agar bisa lebih banyak menarik member dan mengaktifkan diskusi dalam milis tersebut.

3. Pertumbuhan
Pada saat inilah, perkembangan milis mulai terarah ke yang lebih baik. Makin banyak yang bergabung, makin banyak topik-topik diskusi dan tak ketinggalan makin banyak pula posting-posting yang tidak sesuai dengan topik pendirian milis (OOT). Dalam masa pertumbuhan manusia, fase ini bisa diidentikan dengan fase remaja. Etika ber-mailing list mulai disusun dalam fase ini, jika belum disusun pada awal pendirian mailinglist.

4.Terjadi komunitas
Mailing list memasuki fase yang lebih matang, atau fase dewasa. Terjadi banyak jalinan dan keterkaitan. Para member saling menggoda, suasana sangat baik untuk bertanya atau berdiskusi. Kelanggengan suatu milis ditentukan seberapa lama fase ini dapat bertahan.

5. Ketidaknyamanan mulai terjadi
Makin berkembang suatu milis, makin banyak terjadi ketidak sesuaian topik yang didiskusikan. Banyak keluhan yang masuk mengenai e-mail yang tidak sesuai topik. Makin banyak pula yang unsubscribe.

6. Fase lansia
Seperti halnya perusahaan/produk, jika pengelola milis tidak peduli maka akan terjadi:
a. Jika tidak tertangani milisnya berhenti atau sepi kembali dengan member yang tinggal sedikit. Diskusi via japri
b. Issue-issue penting ditanggapi dengan humor, yang bertahan mulai mencoba memperingati agar jangan OOT atau
Fase peremajaan kembali

----

Sekedar iseng aja nih mo ngisi blogspot;))