Saya Engga Mudik...
Ini lebaran yang kesekian kalinya di Singapore. Jauh dari keluarga dan sanak saudara. Tadinya tak ingin sedih, tak mau menangis. Cengeng kesannya. Tapi, tak berhasil saya menahan airmata. Apalagi tadi mendengar takbiran di rumah teman saya. Juga kemarin mendengar suara papa diujung horn telepon dan malam sebelumnya ngobrol dengan adik perempuan di seberang pulau. Sedih, tentu saja…
Dimanapun berada adalah bumi Allah, memang benar. Dimanapun berpijak, akan berjumpa dengan teman-teman, tetangga dan saudara baru, mungkin. Tak akan sepi. Saya pun setuju. Tapi, tanah air, tempat saya dilahirkan hanya satu. Mama, papa, adik-adik, handai taulan, sahabat-sahabat berada disana. Merayakan idul fitri bersama. Menikmati takbiran sambil mengaduk-ngaduk rendang, kuah opor dan menata kue-kue lebaran untuk dinikmati bersama setelah shalat ‘Id nanti.
Mudik di hari raya dengan di hari libur biasa memang terasa bedanya. Nuansa kemesraannya tak sama. Ada sungkem dan maaf-maafan disana. Ada peluk hangat dan tangis haru penuh penyesalan atas salah yang pernah diperbuat terhadap teman, terhadap tante, terhadap adik, terhadap kakak, terhadap….orangtua.
Duh, saya kok jadi mellow ya?
Padahal, sudah ada rencana berlebaran bersama teman-teman setanah air di Singapore, lumayan untuk mengobati rindu akan kampung halaman dan orang-orang tercinta, tapi…rindu itu…
Ah,…saya hapus airmata ini,
Ada yang lebih patut untuk disesali dari ‘sekedar’ tak bisa mudik di lebaran kali ini…
Lebih baik dinikmati saja kangen ini. Bukankah lebih indah rasanya pertemuan yang didahului dengan kerinduan?
........
Spore, matahari sudah tinggi






